Breaking News
Categories
  • Android
  • Berita
  • Budaya
  • ekonomi
  • Film
  • Gadgets
  • Health
  • Inspirations
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Nintendo
  • Reviews
  • Technology
  • Travel
  • Trends
  • Uncategorized
  • War
  • Gagal Patahkan Iran, Trump Perketat Sanksi Ekonomi, Pakar: Teheran Paksakan Washington Berhenti Berperang

    Agu 11 202630 Dilihat

    Balinotis.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki tahap yang baru. Setelah beberapa bulan perang yang menghabiskan energi dan sumber daya, Washington mulai mengubah pendekatan dalam menghadapi Teheran. Alih-alih melakukan serangan militer besar-besaran kembali, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menunjukkan strategi yang jauh lebih diam—namun tetap sangat mengancam.

    Tekanan ekonomi menjadi senjata utama. Washington berupaya memperketat tekanan finansial terhadap Iran, mengharapkan situasi ini akhirnya mendorong Teheran kembali ke meja negosiasi dan menyetujui perjanjian.

    Al Jazeera melaporkan bahwa Trump menyatakan Amerika Serikat memilih pendekatan yang lebih hati-hati setelah berbulan-bulan konflik.

    “Kami menangani hal tersebut secara rahasia,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios.

    Trump mengungkapkan bahwa Washington hanya melakukan sebagian pembicaraan dengan Teheran sementara tetap memantau dampak perang terhadap perekonomian Iran.

    Menurut Trump, kondisi keuangan Iran saat ini berada dalam keadaan yang “sangat memprihatinkan”. Inflasi yang tinggi dan kesulitan ekonomi mulai memengaruhi kemampuan Teheran dalam mendanai pasukannya. Tekanan ini semakin bertambah akibat blokade laut Amerika Serikat yang diberlakukan sejak April.

    Untuk Washington, seluruh tekanan tersebut ditujukan pada satu tujuan: memaksa Iran menyerah sebelum Amerika Serikat harus kembali membuka front militer yang lebih luas.

    Trump Mengklaim Iran Tidak Akan Bertahan Lama

    Keyakinan Trump terhadap keberhasilan strategi tersebut tampak jelas dari pernyataannya mengenai masa depan perang. Di Gedung Putih, Trump bahkan memperkirakan konflik akan segera berakhir.

    “Saya mengira perang ini akan segera berakhir. Saya merasa mereka (Iran) tidak mampu bertahan lebih lama lagi,” ujar Trump.

    Namun di balik pernyataan yang penuh harapan itu, ancaman dari Iran belum benar-benar berlalu.

    Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat masih memegang kendali atas situasi tersebut. Namun, ia sendiri mengakui bahwa Iran tetap mampu melakukan serangan.

    “Kita menguasainya, tetapi mereka selalu mampu menembakkan sesuatu. Mereka selalu memiliki sesuatu atau melepaskan ranjau,” tambah Trump.

    Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Washington merasa lebih unggul, perang belum sepenuhnya berada dalam kendali Amerika Serikat. Dan dalam situasi tekanan ekonomi serta ancaman militer yang sedang terjadi, Iran ternyata masih memiliki satu kartu penting yang sangat bernilai. Selat Hormuz.

    Selat Hormuz bukan hanya sebuah jalur laut. Selat yang strategis ini merupakan salah satu titik paling kritis dalam peredaran perdagangan energi global. Setiap gangguan pada jalur ini dapat mengganggu kegiatan pelayaran, pasokan energi, serta stabilitas ekonomi negara-negara di kawasan maupun di luar Teluk Persia.

    Maka dari itu, pembukaan kembali Selat Hormuz kini menjadi salah satu topik paling mendebarkan dalam persaingan antara Amerika Serikat dan Iran.

    Pembicaraan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut diatur oleh Oman. Al Jazeera melaporkan bahwa negosiasi terkait rute pelayaran baru melalui Selat Hormuz dikabarkan telah mendekati keberhasilan.

    Namun, Iran tidak memberikan akses tersebut secara gratis. Teheran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tergantung pada pemenuhan beberapa permintaan.

    Di antaranya adalah pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat, penghentian operasi militer, serta ganti rugi atas kerugian akibat konflik. Juru bicara IRGC Hossein Mohebi bahkan secara terbuka menyatakan sikap Iran.

    “Pembukaan kembali ini sebenarnya tergantung pada kondisi yang ditetapkan Iran, dan bergantung pada seberapa besar Amerika Serikat menerima kondisi-kondisi tersebut,” kata Mohebi. Bagi Iran, Lautan Hormuz bukan hanya jalur ekonomi.

    Lokasinya yang penting membuat selat tersebut menjadi bagian dari kekuatan geopolitik Teheran.

    Dengan kata lain, ketika Washington berupaya mengancam Iran secara ekonomi, Teheran justru mampu membalas dengan menekan Washington melalui jalur perdagangan dan pasokan energi global. Di sinilah arah persaingan mulai menunjukkan perbedaan yang jelas.

    Ahli: Bukan Iran yang Dalam Tekanan, Melainkan AS yang Dipaksa

    Jika Washington menganggap tekanan ekonomi sebagai indikasi Iran mulai goyah, analisis dari pihak lain justru menunjukkan pandangan yang berbeda.

    Ahli hubungan internasional dari Universitas Binus, Tia Mariatul Kibtiah, menganggap bahwa Iran sedang memanfaatkan situasi untuk memberi tekanan kepada Amerika Serikat. Dalam wawancara yang tayang di Sapa Indonesia Pagi melalui YouTube Kompas TV, Senin (10/8/2026), Tia menyatakan bahwa tuntutan Teheran tidak menunjukkan bahwa Iran mulai menyerah. Justru, Iran dinilai sedang berupaya memaksa Washington secepatnya mengakhiri konflik.

    “Jadi ini terbalik. Tampaknya Iran yang sedang memaksa Amerika Serikat,” ujar Tia. Menurut Tia, tuntutan Iran sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru.

    Namun kini tuntutan tersebut lebih fokus dan semakin mendesak, khususnya mengenai Selat Hormuz.

    Iran menginginkan ganti rugi atas kerugian perang, penghentian gangguan terhadap beberapa front di Timur Tengah, serta pencabutan sanksi.

    “Iran mengatakan, oke Selat Hormuz dibuka asalkan kalian ganti kompensasi, jangan ganggu front-front kami di beberapa wilayah Timur Tengah, yang ketiga adalah segera hapus sanksi,” kata Tia.

    Dan di sinilah strategi Iran terlihat.

    Teheran tidak perlu kalah secara langsung. Iran justru bisa memanfaatkan Selat Hormuz sebagai titik tekan—sebuah titik serangan—untuk memaksa Washington mengambil keputusan.

    “Jadi menurut saya ini seperti tekanan dari Iran karena Iran memahami bahwa faktor eksternal dan internal Amerika Serikat harus segera menyelesaikan perang ini,” katanya.

    Washington Dilema dari Dua Sisi

    Menurut Tia, masalah terbesar bagi Amerika Serikat tidak hanya terbatas pada Iran. Washington dikatakan menghadapi tekanan baik dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, Amerika Serikat sedang menghadapi pemilu paruh waktu.

    Sementara dari luar, negara-negara di kawasan Timur Tengah juga menghadapi ancaman jika terjadi kembali perang.

    “Internal adalah kondisi dalam negeri Amerika Serikat yang saat ini sedang menghadapi pemilu paruh waktu, sedangkan eksternal ada tekanan dari negara-negara Timur Tengah yang harus segera berakhir,” kata Tia.

    Karena jika Amerika Serikat kembali memperluas serangan terhadap Iran, dampaknya tidak hanya terbatas pada medan perang. Negara-negara di kawasan Timur Tengah juga berpotensi terkena pengaruh dari konflik tersebut.

    “Karena jika Amerika Serikat menyerang, dampaknya akan dirasakan oleh mereka, negara-negara Timur Tengah,” tambahnya.

    Dengan demikian, batasan kemampuan Washington semakin berkurang. Di satu sisi, Trump perlu membuktikan bahwa Amerika Serikat tetap tangguh.

    Di sisi lain, konflik yang berlarut-larut berpotensi meningkatkan tekanan politik dan ekonomi. Dan Iran tampaknya memahami celah ini. Tehran kini berupaya mengganti posisinya sebagai pihak yang ditekan menjadi pihak yang memberikan tekanan.

    Oman Memegang Kunci Perundingan

    Di tengah kebuntuan tersebut, sebuah negara kembali muncul sebagai jalur krusial menuju penyelesaian: Oman.

    Tia mengira Oman masih akan memiliki peran penting dalam upaya mengakhiri konflik. Namun menurutnya, penyelesaian tidak perlu dilakukan melalui negosiasi langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

    “Saya melihat bahwa kali ini nanti hanya akan dilakukan melalui perantara, yaitu Oman, jadi hanya melalui Oman saja kesepakatan akan tercapai dan perang akan berakhir,” ujar Tia.

    Jika jalur tersebut berhasil, Oman dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan Washington dan Teheran tanpa perlu kedua belah pihak bertemu secara langsung. Namun, jalan menuju perdamaian belum tentu mulus. Karena ada satu pihak lain yang mampu mengubah seluruh perhitungan.

    Israel.

    Israel Dapat Mengubah Segalanya. Tia mengajukan satu pertanyaan penting: Jika Washington akhirnya menyetujui tuntutan Iran, apakah Israel akan menerima keputusan tersebut? Pertanyaan ini menjadi sangat krusial karena beberapa tuntutan Iran dianggap justru akan memperkuat posisi Teheran.

    “Masalahnya, jika diwujudkan, Israel akan tetap diam? Karena keenam poin yang tadi semuanya menguntungkan Iran,” kata Tia. Artinya, meskipun Washington dan Teheran mulai menemukan solusi, belum tentu perselisihan tersebut benar-benar selesai.

    Masih terdapat kepentingan Israel. Masih ada isu mengenai Selat Hormuz. Masih ada sanksi yang diberlakukan. Masih ada permintaan ganti rugi.

    Dan yang paling utama, masih terdapat ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berkembang selama beberapa bulan perang.

    Perang Belum Berakhir

    Kini perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki tahap yang jauh lebih rumit. Washington menyatakan bahwa Iran semakin tertekan akibat tekanan ekonomi. Trump bahkan yakin bahwa Teheran tidak akan mampu bertahan lama lagi. Namun dari sudut pandang Iran, keadaannya justru berbeda. Teheran masih memiliki senjata tawar.

    Selat Hormuz. Iran mampu memanfaatkannya untuk menekan kepentingan ekonomi dan strategis Amerika Serikat sambil mendorong Washington menuju meja negosiasi. Di tengah situasi ini, Oman berupaya membuka jalur diplomasi. Sementara itu, Israel berpotensi menjadi faktor penentu apakah kesepakatan benar-benar bisa tercapai. Dengan demikian, persaingan antara AS dan Iran kini tidak hanya terjadi melalui rudal, kapal perang, dan blokade.

    Pertandingan telah berubah menjadi pertarungan tekanan. Trump berusaha memaksa Iran menyerah melalui aspek ekonomi. Iran berupaya memaksa Trump mengakhiri konflik melalui jalur laut Hormuz dan tekanan geopolitik. Dan di antara keduanya, masa depan konflik kini bergantung pada satu pertanyaan besar: Siapa yang akan lebih dulu mengalah?

    Share to

    Related News

    Pengacara Khariq Soroti Putusan MK Terka...

    by Agu 11 2026

    Balinotis.com , JAKARTA –Pihak kuasa hukum Khariq Anhar menganggap bahwa jaksa penuntut umum t...

    Kalah dari Monaco, Andoni Iraola: Fisik ...

    by Agu 11 2026

    Balinotis.com – Hasil yang tidak memuaskan diraih oleh Liverpool dalam pertandingan pramusim. ...

    Gus Yahya: Dukungan Terus Bertambah Jela...

    by Agu 11 2026

    Balinotis.com , BONDOWOSO– Persaingan untuk mendapatkan kursi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU mulai me...

    7 Negara yang Bisa Saksikan Gerhana Mata...

    by Agu 11 2026

    balinotis.com – Gerhana matahari total yang akan terjadi pada 12 Agustus 2026 tidak dapat dili...

    Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan Minta ...

    by Agu 11 2026

      —Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) mengucapkan permintaan maaf setelah muncul berita ...

    Lamborghini Temerario Tiba di Indonesia,...

    by Agu 11 2026

    Balinotis.com – Lamborghini Temerario segera diluncurkan secara resmi di pasar Indonesia. Mode...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    Other News

    Kalah dari Monaco, Andoni Iraola: Fisik Liverpo...


    Balinotis.com – Hasil yang tidak memuaskan diraih oleh Liverpool dalam pertandingan pramusim. Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, memberikan...

    11 Agu 2026

    Pariwisata Bali Bangkit, Tingkat Hunian Hotel J...


    Denpasar balinotis.com — Pariwisata Bali lagi bagus-bagusnya nih, mau libur akhir tahun 2025. Hotel-hotel di tempat wisata rame banget, banyak...

    14 Des 2025
    War

    Israel-Hamas war live updates: Anti-U.S. opinio...


    President Joe Biden was visiting Mother Emanuel AME Church in Charleston, South Carolina, on a campaign stop today when a group of war protester...

    07 Feb 2024

    Bali Kini Miliki Layanan Jantung Canggih, Imagi...


    Bali Notis DENPASAR – Ahli Kardiovaskular IntervensiSiloam Hospitals BaliDr. dr. I Made Junior Rina Artha, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FAPSIC, F...

    10 Agu 2026

    BMKG Bali Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Buruk...


    Denpasar – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Bali menetapkan peringatan cuaca buruk bagi sebagian besar wilayah...

    13 Des 2025
    back to top