admin • Mei 03 2026 • 10 Dilihat

JAKARTA Balinotis.com — Harga minyak dunia masih memiliki potensi untuk melonjak, mengingat pasar belum sepenuhnya memahami dampak dari penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dan negara-negara lain. Hal ini disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) Exxon Mobil, Darren Woods, yang menilai bahwa gangguan pasokan saat ini masih terkendala oleh jumlah kapal tanker yang sudah berlayar sebelum konflik berlangsung.
Selain itu, cadangan minyak strategis juga telah dilepaskan dan persediaan komersial dikurangi. Namun, Woods menekankan bahwa sumber pasokan darurat tersebut akan habis jika konflik terus berlanjut. Kondisi ini bisa menyebabkan kenaikan harga minyak lebih besar jika Selat Hormuz tetap ditutup.
“Bagi banyak pihak, jelas bahwa pasar belum melihat dampak penuh dari gangguan pasokan minyak dan gas alam dunia yang tidak pernah terjadi sebelumnya,” ujar Woods dalam pernyataannya.
Menurutnya, tekanan lebih besar akan muncul jika jalur pelayaran strategis tersebut belum dibuka kembali. Pergerakan harga minyak selama perang cenderung volatil. Harga sempat melonjak karena risiko eskalasi, lalu turun akibat harapan perdamaian, dan kembali berfluktuasi. Pada perdagangan Jumat (1/5/2026), harga minyak mentah AS turun lebih dari 3% ke level US$101,38 per barel, sedangkan harga minyak acuan global Brent melemah sekitar 2% ke US$108 per barel.
Woods menilai bahwa harga saat ini masih mencerminkan rata-rata historis dalam satu dekade terakhir, dan belum sebanding dengan besarnya gangguan pasokan di Timur Tengah. Ia memperkirakan bahwa arus minyak dari Teluk Persia dapat kembali normal dalam satu hingga dua bulan setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Menurutnya, kapal tanker perlu diposisikan ulang, antrean pasokan harus diurai, dan distribusi ke tujuan akhir membutuhkan waktu.
Setelah konflik berakhir, pemerintah dan pelaku industri diperkirakan perlu mengisi kembali cadangan strategis dan stok komersial jika persediaan menipis. Hal ini berpotensi menambah permintaan pasar dan kembali menekan harga minyak ke atas.
Exxon Mobil juga memperingatkan bahwa produksi di Timur Tengah dapat turun sebesar 750.000 barel per hari dibandingkan level 2025 jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga kuartal II/2026. Sementara itu, pasokan ke kilang di seluruh dunia diproyeksikan turun 3% dibandingkan kuartal IV/2025.
Woods menyebut bahwa sekitar 15% total produksi perusahaan terdampak penutupan Selat Hormuz. Selain itu, serangan Iran terhadap pusat ekspor gas alam cair di Qatar disebut merusak dua jalur produksi yang sebagian dimiliki Exxon. Jalur tersebut menyumbang sekitar 3% produksi hulu Exxon sepanjang 2025.
Tidak semua keberhasilan datang dari kerja keras semata. Ada momen-momen tertentu dalam hidup yang t...
Harga emas diprediksi akan mengalami fluktuasi pada pekan depan. Berdasarkan data terbaru, harga ema...
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan dalam perdagangan global setelah m...
Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!
Gaza is in ruins, with Israeli forces laying siege to the entire strip and leveling swaths of the enclave. An estimated 80% of its population of...
Tari Rejang Dewa itu penting banget di Bali, soalnya tarian sakral ini jadi bagian dari tradisi keagamaan di sana. Bukan cuma sekadar ikut upaca...
As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no...
JAKARTA Balinotis.com — Harga minyak dunia masih memiliki potensi untuk melonjak, mengingat pasar belum sepenuhnya memahami dampak dari penutu...

No comments yet.